Postingan

Menampilkan postingan dari 2021
Tiada yang bisa dicerna dari sebuah perpisahan selain rasa yang penuh sayat  luka. Basah oleh jatuh hujan di mata yang mulai kehilangan cahaya.  Penyesalan terus menikam tanpa henti. Meninggalkan gigil-gigil di sisa malam, memeluk hari-hari menjadi kesunyian paling sepi. Di sanalah, aku melewati sisa waktu tanpa rindu yang membusuk di dalam dada.  Langkah kakimu yang memudar ialah derana ketika hujan telah usai, membasahi luka selamanya. Mirat-mirat sesal yang terpantulkan di genangan, membiaskan kebodohan yang berdiam di dalam diri begitu lama.  Aku mencintaimu, puan.  Meskipun, itu hanya menjadi kepingan waktu yang telah terbakar sia-sia. Keputusan yang yang kita sematkan ialah titik kedewasaan untuk masing-masing. Siapa yang berhak duluan untuk memilih melambaikan bendera putih atau bertahan? Dan, sungguh, semua itu hanya sebuah pertempuran di dalam diriku sendiri, setelah tiada keberanian mengalir dari bibirku untuk mengatakannya padamu, lalu mengaku akulah ...

*Jika Hidup tidak Didasari dengan Keimanan*

Ya, jika hidup ini tidak didasari dengan keimanan, atau keimanan tersebut tidak memberikan pengaruh lantaran banyak melakukan perbuatan maksiat, maka seluruh kenikmatan lahiriahnya yang sangat singkat akan mendatangkan penderitaan dan kesedihan yang berkali-kali lipat lebih  dahsyat dari kenikmatan dan kesenangan yang ada. Karena dengan akal pikiran yang diberikan Tuhan, manusia memiliki hubungan yang kuat dengan masa lalu dan masa mendatang, di samping masa sekarang yang ia jalani. Sehingga ia dapat merasakan berbagai kenikmatan di masa tersebut sekaligus merasakan kepedihannya. Ini berbeda dengan hewan di mana kenikmatan yang ia rasakan saat ini tidak bercampur dengan kesedihan masa lalu dan kecemasan masa mendatang, karena tidak diberi pikiran. Dari sini dapat dipahami bahwa kenikmatan masa sekarang yang dirasakan oleh manusia, yang terjerumus dalam kesesatan dan kelalaian, akan rusak dengan adanya kesedihan masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan. Hidupnya yang ia jalani sa...

⦸ π˜—π˜¦π˜³π˜’π˜΄π˜’π˜’π˜― π˜ͺ𝘯π˜ͺ 𝘡𝘦𝘭𝘒𝘩 π˜₯π˜ͺ𝘩𝘒𝘱𝘢𝘴

Cinta adalah modal seorang sufi dalam menapaki kehidupan spiritual. Oleh kalangan sufi cinta diistilahkan dengan mahabbah. Dalam tasawuf mahabbah merupakan sebuah maqam (jenjang spiritual yang harus dilalui seorang salik). Setiap hamba memiliki tujuan untuk mendapatkan mahabbah. Oleh sebab itu Imam al-Ghazali menjadikan mahabbah sebagai puncak maqam. Sebuah kisah dari Matsnawi, Jalaluddin Rumi mengisahkan, suatu Ketika Nabi Musa sedang berjalan di padang rumput dan mendapati seorang gembala kambing yang sedang beristirahat sambil berkata: Wahai Tuhanku aku sungguh mencintaiMu. Aku akan melayaniMu sepuas hatiKu. Aku sayang Engkau. Aku ingin sekali membelai dan menyisir rambutMu. Aku ingin sekali menyemir sepatumu.Mendengar perkataan demikian Nabi Musa marah dan menasihati Si penggembala kambing. Wahai penggembala kambing apa yang telah kau katakan telah menodai derajat Tuhan. Kamu tidak pantas berkata begitu, karena Tuhan tidak membutuhkan apa yang kau katakan. Si gembala menyeringai ke...

pukul sepuluh lewat dua puluh dua menit

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apa pun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa. Akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Yang paling menggiurkan setelahnya adalah berbaring, menikmati kepedihan dan membiarkan garis waktu menyeretmu yang niat-tak niat menjalani hidup. Lantas, mau sampai kapan? Sampai segalanya terlambat untuk dibenahi? Sampai cahayamu benar-benar padam? Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga? Bangkit. Hidup takkan menunggu. Akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. Namun tiada guna, garis waktu takkan memperlambat gerakkannya barang sedetik pun. Ia hanya mampu maju, dan terus maju. Dan mau t...

¶¶¶¶¶

"Petiklah bulan, jadikan ia cahaya sahaja di malam laknat para pendosa. Sepi ini tanpa nama, dingin namun bermakna." ~ Jerinx Terimalah setiap kalimat positif yang datang dari siapa saja tanpa memandang latar belakangnya apa. Jangan sampai ketika kita telah benci, kita menjadi tidak mau menerima sisi baik dari orang lain karena logika kita telah tertutup karena perbedaan yang teramat tipis antara benci dan cinta, dimana keduanya bisa mengelabuhi kita. Masih ada secercah cahaya bagi kita yang merasa banyak dosa. Maka menyepi dan menyendiri merenungi setiap apa yang terjadi. Meski dingin menusuk tubuh, tetaplah menatap langit mencari makna disebaliknya.

Fokusnya tidak harus berbicara. Berbicara itu murah. Ini harus beraksi.

Ada seorang anak yang setiap hari rajin sholat ke masjid, lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya,  "Yah mulai hari ini saya tidak mau ke masjid lagi" "Lho kenapa?" sahut sang ayah. "Karena di masjid saya menemukan orang² yang kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan gadgetnya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain". Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu". "Apa itu?" "Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid, ingat jangan sampai ada air yang tumpah". Si anak pun membawa segelas air berkeliling masjid dengan hati², hingga tak ada setetes air pun yang jatuh. Sesampai di rumah sang ayah bertanya, "Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling masjid?",  "Sudah". "Apakah ada yang tumpah?" "Tidak". "Apakah di masjid tadi ada orang yang...

ORANG-ORANG YANG SAMPAI

Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa bin Maryam. Pada suatu hari Isa melihat orang-orang duduk bersedih di sebuah tembok, dipinggir jalan. Tanyanya, “Apa gerangan yang merundungmu semua?” Jawab mereka, “Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan kami menghadapi neraka.” Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah orang berkelompok berduka dalam berbagai gaya dipinggir jalan. Katanya, “Apa gerangan yang merundung kalian?” Mereka menjawab, “Keinginan akan sorga telah membuat kami semua begini.” Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu dengan kelompok ketiga. Tampaknya orang-orang itu telah menderita amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia. Isa bertanya, “Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?” Mereka menjawab, “Semangat Kebenaran. Kami telah melihat Kenyataan, dan hal itu telah menyebabkan kami melupakan tujuan-tujuan lain yang sepele.” Isa berkata, “Orang-orang itu telah sampai. Pada Hari Perhitungan nanti, merekalah yang akan ...