*Jika Hidup tidak Didasari dengan Keimanan*



Ya, jika hidup ini tidak didasari dengan keimanan, atau keimanan tersebut tidak memberikan pengaruh lantaran banyak melakukan perbuatan maksiat, maka seluruh kenikmatan lahiriahnya yang sangat singkat akan mendatangkan penderitaan dan kesedihan yang berkali-kali lipat lebih  dahsyat dari kenikmatan dan kesenangan yang ada.

Karena dengan akal pikiran yang diberikan Tuhan, manusia memiliki hubungan yang kuat dengan masa lalu dan masa mendatang, di samping masa sekarang yang ia jalani. Sehingga ia dapat merasakan berbagai kenikmatan di masa tersebut sekaligus merasakan kepedihannya. Ini berbeda dengan hewan di mana kenikmatan yang ia rasakan saat ini tidak bercampur dengan kesedihan masa lalu dan kecemasan masa mendatang, karena tidak diberi pikiran.

Dari sini dapat dipahami bahwa kenikmatan masa sekarang yang dirasakan oleh manusia, yang terjerumus dalam kesesatan dan kelalaian, akan rusak dengan adanya kesedihan masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan. Hidupnya yang ia jalani saat ini penuh dengan penderitaan dan kecemasan, terutama saat menikmati berbagai kesenangan yang tidak dibenarkan. Ia persis seperti madu yang beracun. 

Dengan kata lain, manusia seratus kali lebih rendah dari hewan dalam menikmati kesenangan hidup. Bahkan, kehidup an kaum yang sesat dan lalai, serta wujud dan dunia mereka hanyalah saat ini saja. Sebab, seluruh masa lalu beri kut entitasnya telah musnah karena kesesatan mereka sehingga mereka terseret dalam lembah kegelapan. Demikian pula dengan masa mendatang, ia tiada bagi mereka karena mereka tidak beriman kepada hal gaib. Akhirnya berbagai perpisah an abadi yang tak berakhir mengisi hidup mereka dengan kegelapan yang pekat selama mereka masih memiliki akal dan mengingkari hari kebangkitan.

Akan tetapi, ketika iman menjadi sumber kehidupan dan cahayanya bersinar, ia akan menerangi masa lalu dan masa mendatang. Keduanya akan abadi serta dapat menolong roh dan kalbu mukmin dari sisi iman dengan berbagai perasaan yang mulia dan cahaya eksistensi yang abadi sebagaimana yang  diberikan oleh masa  sekarang. Hakikat ini telah  dijelaskan secara lengkap dalam “Harapan Ketujuh” dari risalah asySyuyûkh  (Lanjut Usia).

Said Nursi, Tuntunan Generasi Muda, hlm. 24-25
Pembahasan Berlanjut...

Komentar