Tiada yang bisa dicerna dari sebuah perpisahan selain rasa yang penuh sayat  luka. Basah oleh jatuh hujan di mata yang mulai kehilangan cahaya.  Penyesalan terus menikam tanpa henti. Meninggalkan gigil-gigil di sisa malam, memeluk hari-hari menjadi kesunyian paling sepi. Di sanalah, aku melewati sisa waktu tanpa rindu yang membusuk di dalam dada. 

Langkah kakimu yang memudar ialah derana ketika hujan telah usai, membasahi luka selamanya. Mirat-mirat sesal yang terpantulkan di genangan, membiaskan kebodohan yang berdiam di dalam diri begitu lama. 

Aku mencintaimu, puan. 

Meskipun, itu hanya menjadi kepingan waktu yang telah terbakar sia-sia. Keputusan yang yang kita sematkan ialah titik kedewasaan untuk masing-masing. Siapa yang berhak duluan untuk memilih melambaikan bendera putih atau bertahan?

Dan, sungguh, semua itu hanya sebuah pertempuran di dalam diriku sendiri, setelah tiada keberanian mengalir dari bibirku untuk mengatakannya padamu, lalu mengaku akulah yang paling patah. Padahal, akulah yang memilih kalah. 

[Ariqy Raihan, 2020]

-

-

Komentar