⦸ ππ¦π³π’π΄π’π’π― πͺπ―πͺ π΅π¦ππ’π© π₯πͺπ©π’π±πΆπ΄
Cinta adalah modal seorang sufi dalam menapaki kehidupan spiritual. Oleh kalangan sufi cinta diistilahkan dengan mahabbah. Dalam tasawuf mahabbah merupakan sebuah maqam (jenjang spiritual yang harus dilalui seorang salik). Setiap hamba memiliki tujuan untuk mendapatkan mahabbah. Oleh sebab itu Imam al-Ghazali menjadikan mahabbah sebagai puncak maqam.
Sebuah kisah dari Matsnawi, Jalaluddin Rumi mengisahkan, suatu Ketika Nabi Musa sedang berjalan di padang rumput dan mendapati seorang gembala kambing yang sedang beristirahat sambil berkata: Wahai Tuhanku aku sungguh mencintaiMu. Aku akan melayaniMu sepuas hatiKu. Aku sayang Engkau. Aku ingin sekali membelai dan menyisir rambutMu. Aku ingin sekali menyemir sepatumu.Mendengar perkataan demikian Nabi Musa marah dan menasihati Si penggembala kambing. Wahai penggembala kambing apa yang telah kau katakan telah menodai derajat Tuhan. Kamu tidak pantas berkata begitu, karena Tuhan tidak membutuhkan apa yang kau katakan. Si gembala menyeringai ketakutan. Sambil memohon, penggembala itu berkata: Wahai Nabi Musa engkau yang lebih mengetahui hubungan antara hamba dan Allah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang jelas cintaku pada Tuhan melebihi cintaku pada apapun. Musa menjawab: Jika begitu adanya bertobatlah kamu!
Seketika sipenggembala lari menuju hutan dan tidak kelihatan mukanya selama beberapa hari. Beberapa saat kemudian Nabi Musa mendapat teguran dari Allah. Seolah-olah Allah menyalahkan semua tindakan Nabi Musa yang membentak penggembala kambing. Kemudian Nabi Musa mendengar suara tanpa kalimat yang mengatakan:
Wahai Musa engkau telah memisahkan antara Aku dan hambaKu. Pecinta dan Yang diCinta tidak dibatasi oleh kata-kata dan kalimat. Pecinta dan Sang diCinta tidak terikat ikatan hukum dan formalisasi. Datanglah padanya sampaikan salamku untukNya. Berbuatlah sesuka dia. Sesungguhnya Aku sangat mencintai dan ridla padanya.
Mendengar Allah berkata demikian Nabi Musa dengan kontan meminta ampun dan langsung mencari si penggembala kambing ke padang rumput tempat biasa sang penggembala mengembalakan kambingnya. Tetapi Nabi Musa tidak menemukan si Penggembala.
Lama dia mencari hingga berhari-hari hingga ia menemukan si penggembala di dalam hutan dalam keadaan bersedih. Dia merintih sedih tidak bisa meluapkan rasa kasihnya kepada Tuhan. Lalu Nabi Musa mendekatinya. Wahai penggembala kambing sesungguhnya Allah telah berfirman kepadaku. Berbuatlah sesukamu karena Allah mencintai dan ridla kepadamu.
Komentar
Posting Komentar